SEPERTI APAKAH GURU YANG PROFESIONAL?

Seiring dengan gencarnya program pemerintah untuk mengangkat derajat guru dan dosen yang di wujudkan dengan program sertifikasi, seharusnya program tersebut harus didukung berbagai pihak terutama guru itu sendiri. Idealnya semangat sertifikasi harus diimbangi dengan semangat para guru untuk mengasah kemampuan personalnya secara pribadi menyangkut profesinya dalam mendidik dan bukan hanya mengejar imbalan dan tunjangan yang diberikan oleh pemerintah. Sebaliknya pemerintah juga harus benar-benar menjalankan tugasnya sebagai fasilitator dalam pengembangan kemampuan guru-guru yang layak ter sertifikasi dan bukan hanya mengejar target sekian persen guru yang harus disertifikasi dalam kurun waktu tertentu. Sebab sertifikasi tanpa peningkatan mutu personal guru akan sia-sia atau yang didalam bahasa penulis disebut “AKAN KELAUT”.

Berdasarkan apa yang saya tuliskan di atas, berikut saya mencoba untuk memaparkan seperti apakah guru yang professional itu, sehingga para guru yang sudah mendapatkan sertifikasi bisa bercermin dan kalau memang belum merasa memenuhi kriteria berikut, mudah-mudahan muncul semangat baru untuk meletakkan kembali tujuan sertifikasi tersebut sesuai dengan semangat awalnya.

Pengertian Profesional
Pada umumnya orang memberi arti yang sempit terhadap pengertian profesional. Profesional sering diartikan sebagai suatu keterampilan teknis yang dimiliki seseorang. Misalnya seorang guru dikatakan guru profesional bila guru tersebut memiliki kualitas mengajar yang tinggi. Padahal pengertian profesional tidak sesempit itu, namun pengertiannya harus dapat dipandang dari tiga dimensi, yaitu : expert (ahli), responsibility (rasa tanggung jawab) baik tanggung jawab intelektual maupun moral, dan memiliki rasa kesejawatan.
1. Expert

Pengertian ahli disini dapat diartikan sebagai ahli dalam bidang pengetahuan yang diajarkan dan ahli dalam tugas mendidik. Seorang guru bisa disebut ahlinya apabila tidak hanya menguasai isi pengajaran yang diajarkan saja, tetapi juga mampu dalam menanamkan konsep mengenai pengetahuan yang diajarkan dan mampu menyampaikan pesan-pesan didik. Mengajar adalah sarana untuk mendidik, untuk menyampaikan pesan pesan didik. Guru yang ahli memiliki pengetahuan tentang cara mengajar (teaching is a knowledge), juga keterampilan (teaching is skill) dan mengerti bahwa mengajar adalah juga suatu seni (teaching is an art). Didalam prosesnya kita harus ingat bahwa siswa bukanlah sebuah manusia tetapi merupakan seorang manusia, pengetahuan yang diberikan padanya merupakan bahan untuk membentuk pribadi yang utuh (holistic), membentuk konsep berpikir, sikap jiwa dan menyentuh afeksi yang terdalam. Oleh sebab itu guru tidak hanya dituntut memiliki pengetahuan dan terampil saja tetapi harus memiliki seni mengajar. Jadi kesimpulannya guru yang ahli itu disamping memiliki ilmu dan terampil dibidangnya, juga harus memiliki seni mengajar. sehingga dalam proses belajar mengajar mampu menciptakan situasi belajar yang mengandung makna relasi interpersonal sehingga siswa merasa “diorangkan”, memiliki jati dirinya.
2. Responsibility

Pengertian bertanggung jawab menurut teori ilmu mendidik mengandung arti bahwa seseorang mampu memberi pertanggung jawaban dan bersedia untuk diminta pertanggung jawaban. Tanggung jawab juga mengandung makna sosial, artinya orang yang bertanggung jawab harus mampu memberi pertanggung jawaban terhadap orang lain. Tanggung jawab juga mengandung makna etis artinya tanggung jawab itu merupakan perbuatan yang baik. Dan tanggung jawab juga mengandung makna religius, artinya ia juga harus punya rasa tanggung jawab tehadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Guru yang profesional mempersiapkan diri sematang-matangnya sebelum ia mengajar. la menguasai apa yang diajarkannya dan bertanggung jawab atas semua yang disampaikan dan bertanggung jawab atas segala tingkah lakunya.
3. Sense of Belonging/Colleague

Salah satu tugas dari organisasi profesi adalah menciptakan rasa kesejawatan sehingga ada rasa aman dan perlindungan jabatan. Melalu organisasi profesi diciptakan rasa kesejawatan. Semangat korps dikembangkan agar harkat martabat guru dijunjung tinggi, baik oleh guru sendiri maupun masyarakat pada umumnya. Jadi seseorang bisa disebut sebagai profesional apabila tidak hanya berkualitas tinggi dalam hal teknis namun harus ahli dibidangnya (expert), memiliki rasa tanggung jawab (responsibility) baik dalam tanggung jawab intelektual maupun tanggung jawab moral dan memiliki rasa kesejawatan.

Ditulis oleh :

Aram Manalu, S. Kom

Tenaga Pengajar SMP Sinar Sentosa

Mahasiswa FKIP Universitas Darma Agung

About aram

Anak bungsu dr 9 bersaudara, cerdas, strong, tampan do nian alai maol lakku.. (wew//!) saat ini sedang meniti karir di Pemerintah Daerah Aceh Tenggara. Horas..!

Posted on 11 Agustus 2010, in PENDIDIKAN and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: